Selasa, 19 Mei 2015

ORGANISASI

Pengertian, Definisi, Arti Organisasi dan Unsur – Unsurnya Secara Umum


Pengertian organisasi merupakan sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih, atau organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian tujuan bersama, organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.

1. Organisasi Menurut Stoner
    Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan orang-orang di bawah pengarahan manajer
    (pimpinan) untuk mengejar tujuan bersama.
2. Organisasi Menurut James D. Mooney
    Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3. Organisasi Menurut Chester I. Bernard
    Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh
    dua orang atau lebih.

Pengertian / Definisi Organisasi Informal dan Organisasi

1. Organisasi Formal
    Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan
    suatu tujuan bersama secara sadar, serta dengan hubungan kerja yang rasional.
    Contoh : Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya.
2. Organisasi Informal
    Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas
    serta tujuan bersama yang tidak disadari. Contoh : Arisan ibu-ibu sekampung, belajar bersama
    anak-anak SD dan lain-lain.

Ciri – Ciri Organisasi
Kalau kita memperhatikan penjelasan di atas tentang pengertian organisasi maka dapatlah di katakan bahwa setiap bentuk organisasi akan mempunyai unsur-unsur tertentu, yang antara lain sebagai berikut:

1. Sebagai Wadah Atau Tempat Untuk Bekerja Sama
    Organisasi adalah merupakan merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-orang
    dapat bersama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa adanya
    organisasi menjadi saat bagi orang-orang unutk melaksanakan suatu kerja sama,
    sebab setiap orang tidak mengetahui bagaiman cara bekerja sama tersebut akan
    dilaksankan. Pengertian tempat di sini dalam ari yang konkrit, tetapi dalam arti yang
    abstrak, sehingga dengan demikian tempat sini adalah dalam arti fungsi yaitu menampung
    atau mewadai keinginan kerja sama beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu.
    Dalam pengertian umum, maka organisasi dapat berubah wadah sekumpulan orang-orang
    yang mempunyai tujuan tertentu misalnya organisasi buruh, organisasi wanita,organisasi
    mahasiswa dan sebagainya.

2. Proses kerja sama sedikitnya antar dua orang
    Suatu organisasi, selain merupakan tempat kerja sama juga merupaka proses kerja sama
    sedikitnya antar dua orang. Dalam praktek, jika kerja sam atersebut di lakukan dengan
    banyak orang, maka organisasi itu di susun harus lebih sempurna dengan kata lain proses
    kerja sama di lakukan dalam suatu organisasi,mempunayi kemungkinan untuk dilaksanakan
    dengan lebih baik hal ini berarti tanpa suatu organisasi maka proses sama itu hanya bersifat
    sementara, di mana hubungan antar kerja sama antara pihak-pihak bersangkutan kurang
    dapat diatur dengan sebaik-baiknya.

3. Jelas tugas kedudukannya masing-masing
    Dengan adanya organisasi maka tugas dan kedudukan masing-masing orang atau pihak
    hubungan satu dengan yang lain akan dapat lebih jelas, dengan demikian kesimpulan dobel
    pekerjaan dan sebagainya akan dapat di hindarkan. Dengan kata lain tanpa orang yang
    baik mereka akan bingung tentang apa tugas-tugasnya dan bagaimana hubungan antara
    yang satu dengan yang lain.

4. Ada tujuan tertentu
    Betapa pentingnya kemampuan mengorganisasi bagi seorang manajer. Suatu perencana
    yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan cendrung lebih baik hasilnya dari pada
    perencanaan yang baik tetapi organisasi tidak baik.

Unsur – Unsur Organisasi
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang, ada kerjasama, dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi saling kait atau saling berhubungan sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh. Adapun unsur-unsur organisasi secara terperinci adalah :
1. Man
     Man (orang-orang), dalam kehidupan organisasi atau ketatalembagaan sering disebut
     dengan istilah pegawai atau personnel. Pegawai atau personnel terdiri dari semua anggota
     atau warga organisasi, yang menurut fungsi dan tingkatannya terdiri dari unsur pimpinan
     (administrator) sebagai unsur pimpinan tertinggi dalam organisasi, para manajer yang
     memimpin suatu unit satuan kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing dan
     para pekerja (nonmanagement/workers). Semua itu secara bersama-sama merupakan
     kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
2. Kerjasama
    Kerjasama merupakan suatu perbuatan bantu-membantu akan suatu perbuatan yang
    dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, semua
    anggota atau semua warga yang menurut tingkatan-tingkatannya dibedakan menjadi
    administrator, manajer, dan pekerja (workers), secara bersama-sama merupakan kekuatan
    manusiawi (man power) organisasi.
3. Tujuan Bersama
    Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang apa
    yang akan dicapai atau yang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa yang
    harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai melalui
    prosedur, program, pola (network), kebijaksanaan (policy), strategi, anggaran (budgeting),
    dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan.
4. Peralatan (Equipment)
    Unsur yang keempat adalah peralatan atau equipment yang terdiri dari semua sarana, berupa
    materi, mesin-mesin, uang, dan barang modal lainnya(tanah, gedung/bangunan/kantor).
5. Lingkungan (Environment)
    Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. Termasuk
    dalam unsur lingkungan, antara lain :
    a. Kondisi atau situasi yang secara langsung maupun secara tidak langsung berpengaruh
        terhadap daya gerak kehidupan organisasi, karena kondisi atau situasi akan selalu
        mengalami perubahan.
    b. Tempat atau lokasi, sangat erat hubungannya dengan masalah komunikasi dan
        transportasi yang harus dilakukan oleh organisasi.
    c. Wilayah operasi yang dijadikan sasaran kegiatan organisasi.
        Wilayah operasi dibedakan menjadi :
        1) Wilayah kegiatan, yang menyangkut jenis kegiatan atau macam kegiatan apa saja
              yang boleh dilakukan sesuai dengan tujuan organisasi
        2) Wilayah jangkauan, atau wilayah geografis atau wilayah teritorial, menyangkut
              wilayah atau daerah operasi organisasi.
        3) Wilayah personil, menyangkut semua pihak (orang-orang, badan-badan) yang
              mempunyai hubungan dan kepentingan dengan organisasi.
        4) Wilayah kewenangan atau kekuasaan, menyangkut semua urusan, persoalan,
              kewajiban, tugas, tanggung jawab dan kebijaksanaan yang harus dilakukan dalam
              batas-batas tertentu yang tidak boleh dilampaui sesuai dengan aturan main yang
              telah ditetapkan dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
              yang berlaku.
6. Kekayaan Alam
    Yang termasuk dalam kekayaan alam ini misalnya keadaan iklim, udara, air,
    cuaca (geografi, hidrografi, geologi, klimatologi), flora dan fauna.

Senin, 18 Mei 2015

KARIER

Setelah mempelajari apa itu Psikologi Industri , sekarang akan kita bahas tentang karier yang berkaitan dengan Karyawan dan Produktivitas.

Karier (Wikipedia) berasal dari bahasa Belanda; carriere adalah perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan seseorang. Ini juga bisa berarti jenjang dalam sebuah pekerjaan tertentu.

Karier-Pekerjaan-Kehidupan sangat terkait dan sering kali dipkakai sebagai salah satu penentu status dan gengsi seseorang. Dari hal tersebut, maka definisi keseluruhan karier adalah Rangkaian posisi yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai bagian  perkembangan dan kemajuan pada kehidupan seseorang.

Untuk mengetahui lebih jauh  tentang karier, mari kita baca terlebih dahulu beberapa Teori-teori karir menurut para ahli (klik).

Dari beberapa Teori-teori karir menurut para ahli, tentu terbayang bagaimana cara meningkatkan karir.
Berikut ini beberapa penjelasan tentang pengembangan karier :

A. Kita Perlu Bertanya Pada Diri Sendiri.
    Tanyakan hal berikut pada diri anda :

  • Dalam setiap dari kita terletak kekuatan untuk membentuk masa depan kita dan itu akan dibentuk oleh tindakan kita - atau tidak bertindak . Artinya kita harus tahu apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita serta kekuatan/kemampuan apa yang ingin kita miliki dan perlu kita miliki untuk mencapai goals/tujuan.
  • "Apa yang mengilhami dan memotivasi Anda untuk memasukkan profesi ini ? 
  • Jika anda ingin berkarir di profesi ini, Anda perlu merencanakan dam bekerja menuju rencana yang seperti apa. .


B. Beberapa Konsep Penting Dalam Karier.
•       Perencanaan karir tidak selalu tentang perkembangan terus ke atas.
     Karir tidak selalu tentang kenaikan gaji atau jabatan, tetapi juga tentang bagaimana dan berapa banyak jaringan (relationsip) yang anda bangun. Semakin banyak dan baik jaringan yang terbentuk, maka semakin baik juga karir. dimasa yang akan datang, jenjang karir akan semakin sempit. hal ini dikarenakan semakin tergusurnya tenaga manusia oleh teknologi ditambah perubahan nilai dalam masyarakat dunia dimana dahulu manusia dibagi-bagi menjadi beberapa level dalam dunia kerja(buruh, karyawan, staff, manajer, direktur, dll) , sekarang manusia dianggap sebagai rekan kerja dan atau aset perusahaan. Perubahan nilai ini terjadi seiring dengan giatnya penegakan HAM dan semakin kuatnya organisasi-organisasi buruh.

•       Perencanaan karir harus fleksibel.
     Sengaja kedua hal ini penulis satukan, mengingat disatu sisi hal ini sesungguhnya tidak saling terpisahkan namun disisi lain kita pun harus jeli kapan harus tetap konsisten dan kapan bisa fleksibel. Kita harus tetap konsisten jika menyangkut nilai dasar kita dalam merencanakan karir, nilai adalah prinsip dan harus ditegakkan secara konsisten. Selain itu untuk tujuan yang bersifat jangka panjang kita pun harus konsisten. Namun, kita bisa fleksibel apabila hal itu lebih bersifat teknis, operasional dan bersifat ”temporary” atau berjangka pendek. Jika menyangkut kompetensi anda harus konsisten dengan ”core competency” yang dimiliki, namun dapat lebih fleksibel untuk ”functional competency” atau ”specific competency.”


•       Beberapa jenis perencanaan harus dilakukan.
     Hal ini perlu dilakukan karena Peluang adalah faktor yang relatif ”uncontrollabel,” diluar kendali kita. Namun, kita dituntut jeli melihatnya, sering disebut peluang jarang berulang dua kali, begitu diperoleh kita harus jeli melihatnya dan segera menangkap apabila hal tersebut selaras dengan perencanaan karir yang telah dibuat.


C. Perspektif Organisasi dan Individual.
     Hal ini perlu diketahui karena pada dasarnya perencanaan karir terdiri atas dua elemen utama
    yaitu perencanaan karir individual (individual career planning) dan perencanaan karir
    organisasional (organizational career planning). Perencanaan karir individual dan
    organisasional tidaklah dapat dipisahkan. Seorang karyawan yang rencana karir
    individualnya tidak dapat terpenuhi di dalam organisasi, cepat atau lambat karyawan
    tersebut akan meninggalkan perusahaan. Oleh karena itu, organisasi juga perlu
    menciptakan perencanaan karir bagi karyawannya sehingga organisasi dapat
    berkembang dan karyawanpun terpenuhi pengembangan karirnya.

    1. Perspektif Organisasi
  •       Mengidentifikasi kebutuhan kepegawaian organisasi masa depan .
  •       Rencana karir tangga .
  •       Menilai potensi dan pelatihan individu kebutuhan .
  •       Sesuai dengan kebutuhan organisasi dengan kemampuan individu .
          •   Audit dan mengembangkan sistem carrer bagi organisasi .
    2. Perspektif Individual
•       Mengidentifikasi kemampuan pribadi dan bunga.
•       Tujuan hidup rencana dan kerja.
•       Menilai jalur alternatif di dalam dan di luar organisasi.
      •   Catatan perubahan kepentingan dan tujuan sebagai karir dan kehidupan perubahan tahap.



D. Multi-Faktorial Pengembangan Karir


    1. Faktor-faktor Pengembangan Karir :
        Bernard & Russel (1998) dalam penelitiannya mengemukakan faktor-faktor dari
        pengembangan karir sebagai berikut :

        a.  Konseling individu: konseling ini dimaksudkan untuk membantu individu
             mendiskusikan  tentang karir mereka dalam hal minat, tujuan, aktivitas
             kerja dan kinerja mereka.

        b. Memberikan  pelayanan informasi:   sistem komunikasi  internal sering
            digunakan oleh organisasi untuk mengingatkan karyawan supaya siap bekerja
            pada semua bidang tingkat kerja, dibawah maupun diatas. Pelayanan informasi
            ini meliputi; memberitahukan sistem kerja, tangga karir atau jalur karir.

        c. Program untuk karyawan baru atau pemula: program ini dilakukan organisasi
            supaya karyawan lebih familiar dengan kebijakan dan prosedur organisasi.
            Program ini meliputi; program mengantisipasi proses sosialisasi, rekruitmen lebih
            realistis,dan program orientasi karyawan.

        d.  Program penilaian organisasi: program ini dilakukan untuk mengevaluasi
             potensi karyawan dalam menumbuhkan dan mengembangkan organisasi.
             Program ini meliputi; tes psikologi, meramalkan promosi.

        e. Program  pengembangan : program ini  konsisten dengan penilaian
            keterampilan dan program pelatihan yang digunakan organisasi untuk
            mengembangakan karyawan dalam posisi yang akan ia tempati dimasa yang
            akan datang. Program ini meliputi; program perputaran, dan pelatihan.

    2. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Karir
        Pengembangan karir meliputi dua faktor yang mempengaruhinya yaitu bagaimana
        individu merencanakan dan mengimplementasikan tujuan karir mereka
        (perencanaan karir) dan bagaimana organisasi mendesain dan mengimplementasikan
        program pengembangan karir mereka (manajemen karir).
        Perencanaan karir yaitu individu berusaha untuk jadi lebih memikirkan keterampilan,
        ketertarikan atau minat, nilai, kesempatan, pilhan dan konsekuensi. Ini meliputi
        identifikasi karir yang berhubungan dengan tujuan dan perencanaan yang didirikan
        untuk mencapai tujuan.

        Sub faktor dari perencanaan karir yaitu:
        a. Pemilihan pekerjaan.
        b. Pemilihan organisasi.
        c. Pemilihan tugas kerja.
        d. Mengembangkan karir diri.

        Arus perhatian perencanaan karir yaitu:
        a. Lebih memperhatikan kelangsungan karir diri.
        b. Lebih mengutamakan pada pertengahan karir.
        c. Lebih menanyakan dan menolak pergerakan karir (mencakup promosi).
        d. Lebih jujur menilai diri.
        e. Karir berada dipuncak merupakan suatu pilihan.
        f. Keinginan untuk merencanakan karir bersama dengan perusahaan.
        g. Membutuhkan informasi lebih dalam perusahaan untuk kesempatan berkarir.
        h. Keinginan untuk mendapatkan pertolongan dari perusahaan dalam
            mengimplementasikan perencanaan karir.

        Manajemen karir merupakan suatu faktor yang mempersiapkan, mengimplementasi,
        memonitor perencanaan karir yang direncanakan oleh individu sendiri atau
        yang memperhatikan sistem karir didalam organisasi (Bernard & Russel, 1998).

        Sub faktor dari manajemen karir yaitu:
        a. Rekruitmen dan seleksi.
        b. Alokasi sumber daya manusia.
        c. Penilaian dan evaluasi.
        d. Pelatihan dan pengembangan.

        Arus perhatian manajemen karir yaitu:
        a. Strategi perencanaan sumber daya manusia.
        b. Kesuksesan perencanaan.
        c. Penilaian dan pengembangan potensi manajemen.
        d. Alternatif atau jalur karir nontradisional.
        e. Kebijaksanaan cuti.
        f. Legitimasi yang dikeluarkan, bergerak menurun.
        g. Persoalan untuk karir yang dirangkap.
         h. Mata rantai sistem manajemen karir dengan sistem perencanaan karir.


    3. Penanggung Jawab Pengembangan Karir Dalam Organisasi
        Pengembangan karir meliputi proses perencanaan karir dan manajemen karir.
        Perencanaan karir dan manajemen karir mempunyai aktivitas, yang mana tanggung jawab
        dalam aktivitas perencanaan karir dan manajemen karir dipegang oleh karyawan,
        manajer, dan organisasi.

        a. Tanggung jawab dalam Perencanaan karir :
            1)  Tanggung jawab karyawan dalam Perencanaan Karir adalah:
                  a)  Menilai kemampuan diri, ketertarikan dan nilai.
                  b)  Menganalisis kebebasan untuk berkarir.
                  c)  Menentukan pengembangan secara objektif dan dibutuhkan.
                  d)  Memilih untuk mengembangkan komunikasi kepada manajer.
                  e)  Menunjukkan sikap setuju atas perencanaan bersama dengan manajer.
                  f)  Mencari persetujuan atas sikap yang direncanakan.

           2)  Tanggung jawab manajer dalam Perencanaan Karir adalah:
                 a)  Bertindak sebagai katalisator; peka terhadap proses
                      perencanaan pengembangan karyawan.
                 b)  Menilai kenyataan yang diungkapkan karyawan secara objektif dan
                      merasa  yang dibutuhkan.
                 c)  Sebagai penasehat karyawan dan mengembangkan secara bersama-
                      sama perencanaan yang disetujui.
                 d)  Mengikuti dan memperbaharui perencanaan karyawan yang sesuai.

          3)  Tanggung jawab organisasi dalam Perencanaan Karir adalah:
                a)   Menyediakan model perencanaan karir, sumber penasehat dan
                      informasi yang  dibutuhkan untuk merencanakan karir individu.
                b)   Menyediakan pelatihan dalam perencanaan pengembangan karir
                      manajer dan karyawan dan penasehat manajer.
                c)  Menyediakan program pelatihan keterampilan dan kesempatan dalam
                     mengembangkan kerja.

      b.  Tanggung jawab dalam Manajemen karir :
           1) Tanggung jawab karyawan dalam Manajemen karir adalah:
               Menyediakan informasi yang akurat kepada manajemen yang meliputi
               keterampilan atau minat dan aspirasi karir.

           2)  Tanggung jawab manajer dalam Manajemen karir adalah:
               a)   Menyediakan informasi yang valid melalui karyawan
               b)  Menyediakan informasi tentang keterangan posisi kerja yang mana
                    manajer sebagai penanggung jawab.
               c)  Menggunakan semua informasi yang disediakan oleh proses
                    identifikasi semua kandidat kekosongan posisi dan membuat seleksi serta identifikasi
                    peluang pengembangan karir (kerja terbuka, program pelatihan, rotasi ) untuk karyawan                       dan tempatnya bekerja.

          3)  Tanggung jawab organisasi dalam Manajemen karir adalah:
              a)  Menyediakan sistem informasi dan proses untuk mengakomodasi
                   manajemen dalam pengambilan keputusan yang dibutuhkan
              b)  Mengorganisisir dan mendata semua informasi
                 c)  Menggunakan informasi secara efektif melalui pendesainan metode untuk
                   dikumpulkan, dianalisis, diinterpretasikan dan menggunakan informasi untuk
                   memonitor dan mengevaluasi sebagai proses pengefektifan.

Setelah mempelajari tentang karir, maka selanjutnya adalah mempelajari tentang organisasi. Dengan mempeleajari organisasi, kita menjadi lebih tahu pekerja/rekan kerja seperti apa yang dibutuhkan suatu perusahaan serta bagaimana jenjang karir yang ada disuatu perusahaan.



" Masih banyak teori-teori yang berkaitan dengan karir, cara-cara dan tips dalam mengembangkan karir. Semoga materi kali ini tentang karir dapat bermanfaat untuk mengembangkan karir pembaca sekalian. "

Teori-Teori Karir Menurut Para Ahli

Teori-Teori Pilihan Karir Menurut Para Ahli

Para ahli yang mengembangkan teori-teori pilihan karir antara lain diungkapkan oleh: Peter M. Blau (1950), Donald E. Super (1957), John Holland (1959), dan David V. Tiedeman (1989) sebagai berikut.

A.   Peter M. Blau (1950)
Menurut Peter M. Blau (Sukardi, 1987: 86) arah pilihan karir seseorang merupakan suatu proses yang berlangsung lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor penunjang maupun faktor penghambat bagi seseorang dalam membuat keputusan karir. Faktor-faktor yang mempengaruhi individu dalam pembuatan keputusan karir di antaranya sebagai berikut: pengalaman sosial, interaksi dengan orang lain, potensi-potensi yang dimiliki, aspirasi orang tua, keadaan sosial ekonomi orang tua, pengetahuan tentang dunia kerja, minat, pertimbangan pilihan karir, serta keterampilan dalam pembuatan keputusan karir.

Pilihan seseorang terhadap suatu pekerjaan didorong oleh faktor adanya kecenderungan untuk mendapatkan ganjaran dan faktor pengharapan terhadap terjadinya perubahan.

Faktor-faktor yang menentukan dalam memasuki pekerjaan menurut Peter M. Blau (Sukardi, 1987: 88) terdiri dari delapan macam, di antaranya yaitu:

  1.       Tuntutan anggota baru untuk mendapat libur atau cuti lebih awal dan lebih lama.
  2.       Faktor kebutuhan fungsional, misalnya teknik kualifikasi.
  3.       Faktor kebutuhan non fungsional, yaitu suatu seleksi yang didasarkan atas dasar
    kriteria yang  tidak relevan.
  4.       Ganjaran (reward), seperti gaji (income), prestise, tenaga, dan lain-lain.
  5.       Faktor informasi yang lengkap yang berpengaruh dalam memasuki pekerjaan.
  6.       Keterampilan teknik pekerjaan dalam berbagai macam.
  7.       Karakteristik sosial pekerja yang berpengaruh dalam penmbuatan keputusan.
  8.       Faktor orientasi nilai masyarakat yang relatif menentukan signifikasi perbedaan
    ganjaran (reward) yang akan diterima.

Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap pekerjaan yang akan dipilih oleh seseorang. Pada hakikatnya, setiap individu akan mengumpulkan informasi mengenai karir yang akan dipilihnya. Informasi yang dikumpulkan oleh seorang individu di antaranya adalah faktor-faktor yang telah disebutkan di atas.

B.   Donald E. Super (1957)
Super (Sharf, 1992: 121) menjelaskan bahwa dalam kematangan bekerja dan konsep diri (self-concept) merupakan dua proses perkembangan yang berhubungan. Pada teori tersebut Donald E. Super masih menjelaskan masalah perkembangan atau pemilihan jabatan secara umum.

Teori perkembangan jabatan menurut Donald E. Super (anieq et al., 2004) yaitu sebagai berikut:

1.       Setiap orang memiliki perbedaan individual, sebab setiap orang memiliki kemampuan,
  minat, dan ciri-ciri kepribadian yang berbeda.
2.       Setiap individu memiliki kecakapan (potensi) untuk mencapai sukses atau kepuasan
  untuk sejumlah pekerjaan tertentu.
3.       Setiap jenis pekerjaan menuntut pola khas dari kemampuan, minat, nilai-nilai, dan
  sifat-sifat kepribadian.
4.       Preferensi dan kompetensi jabatan akan mengalami perubahan karena waktu dan
  pengalaman, karena membuat pilihan dan penyesuaian merupakan proses yang kontinu.
5.       Proses perkembangan melewati lima tahapan kehidupan, yaitu tahap
  pertumbuhan (growth), eksplorasi (eksploration), pembentukan (establishment),
  pembinaan (maintenance), dan tahap kemunduran (decline). Kemudian pada tahap
  eksplorasi dibagi kembali menjadi tahap fantasi, tentatif, dan tahap realistis.
  Sedangkan pada tahap pembentukan dibagi menjadi tahap mencoba (trial) dan
  tahap yang mentah (stable).
6.       Pola karir pada umumnya ditentukan oleh tingkat sosial ekonomi keluarga,
  kemampuan mental, kepribadan, dan kesempatan (faktor internal dan eksernal).
7.       Perkembangan tingkat kehidupan (life stage) atau arah pilihan jabatan seseorang
  selalu berkembang dan dapat diarahkan dengan mempermudah proses kematangan
  kemampuan, minat, mengembangkan konsep diri, serta kesempatan yang
  cukup memadai.
8.       Proses perkembangan jabatan penting dalam mengembangkan dan melaksanakan suatu
  konsep diri.
9.       Proses perpaduan antara faktor individual dan sosial atau antara konsep diri dengan
  kenyataan (reality testing). Interaksi antara individu dengan lingkungan yang
  membentuk pola karir.
10.    Kepuasan kerja dan kepuasan hidup sangat bergantung pada luasnya individu dapat
  menyalurkan potensi-potensi, kepribadian dan nilai-nilai yang dimilikinya.

C.   John Holland (1959)
John Holland (Sharf, 1992: 45) memandang bahwa pilihan karier dan penyesuaian karir merupakan pengembangan dari kepribadian seseorang. Individu mengekspresikan dirinya, ketertarikan, dan nilai-nilai melalui pilihan karir mereka. Teori ini mengemukakan bahwa adanya hubungan antara pemilihan karir dengan tipe kepribadian yang dimiliki individu dan penting sekali membangun keterkaitan atau kecocokan antara dua hal tersebut.

Holland mengakui bahwa teori hanya dapat menjelaskan sebagian dari variabel-variabel yang mendasari pilihan karir. Dia menyatakan bahwa model teoretis dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kelas sosial, kecerdasan, dan pendidikan. Dengan pemahaman itu, ia melanjutkan untuk menetapkan bagaimana individu dan lingkungan saling berinteraksi melalui pengembangan terpisah enam tipe: Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Enterprising, dan Konvensional.

Tiga konstruksi penting bagi konseptualisasi dan penggunaan tipe kepribadian Holland dalam konseling adalah kesesuaian, perbedaan, dan konsistensi. Ini mengacu pada hubungan antara kepribadian dan lingkungan (kesesuaian), hubungan antara lingkungan dan kepentingan relatif (diferensiasi), dan hubungan tipe satu sama lain (konsistensi).

Pokok pikiran yang mendasari teori Holland (Manrihu, 1992: 70) yaitu sebagai berikut.
 1.       Individu dapat dikategorikan menjadi enam tipe kepribadian, yaitu: realistik, investigatif,
   artistik, sosial, giat (suka berusaha), dan konvensional.
 2.       Dalam menentukan pilihan karir, individu di arahkan untuk memilih lingkungan pekerjaan
   (okupasional) yang sesuai dengan tipe kepribadiannya.
 3.       Individu mempelajari lingkungan-lingkungan pekerjaan dan melatih keterampilan dan
         kemampuannya, mengekspresikan sikap-sikap dan nilai-nilai, dan menerima masalah
   masalah serta peranan-peranan yang sesuai.
 4.       Perilaku seseorang ditentukan oleh interaksi antara kepribadian dengan ciri-ciri
         lingkungannya.

Dalam proses pilihan pekerjaan, Holland (Sukardi, 1987: 81) bependapat bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor diri dan faktor lingkungan. Faktor diri meliputi pengetahuan tentang diri (self-knowledge), evaluasi diri (self-evaluation), dan pengetahuan karir (arah atau luasnya pekerjaan). Sedangkan faktor lingkungan meliputi potensi lingkungan, tekanan sosial yang bersumber dari keluarga dan teman, penilaian atasan dan potensi dari atasan, serta batasan-batasan yang berasal dari sumber sosial ekonomi dan lingkungan fisik.
John Holland mengemukakan bahwa pengetahuan diri mempunyai peranan meningkatkan (increase) atau mengurangi (decrease) ketepatan pilihan seseorang. Pengetahuan diri diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membedakan berbagai kemungkinan lingkungan yang dipandang dari sudut kemampuan yang dimiliki oleh individu itu sendiri. Penilaian diri (self-evaluation) berbeda dengan pengenalan diri. Penilaian diri lebih menitikberatkan pada penghargaan terhadap dirinya, sedangkan pengetahuan diri berisikan sejumlah informasi yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. Penilaian diri yang terlalu tinggi mengakibatkan pilihan yang melebihi kecakapannya atau aspirasi yang tidak realistis, dan penilaian yang kurang menyebabkan pilihan di bawah kecakapan atau aspirasi yang tidak realistis.
Teori Holland oleh banyak pakar psikologi vokasional dinilai sebagai teori yang komprehensif karena meninjau pilihan okupasi sebagai bagian dari keseluruhan pola hidup seseorang dan sebagai teori yang mendapat banyak dukungan dari hasil penelitian sejauh menyangkut model-model lingkungan serta tipe-tipe kepribadian. Kelemahan dalam teori ini adalah kurang ditinjau proses perkembangan yang melandasi keenam tipe kepribadian dan tidak menunjukan fase-fase tertentu dalam proses perkembangan itu serta akumulasi rentang umur. Mengenai tahap atau tingkat yang dapat dicapai oleh seseorang dalam bidang okupasi tertentu (occupational level), Holland menunjuk pada taraf inteligensi yang memungkinkan tingkat pendidikan sekolah tertentu, namun dipertanyakan apakah masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi dalam hal ini, seperti taraf aspirasi seseorang (Winkel & Hastuti, 2005: 639).

D.   David V. Tiedeman (1989)
David V. Tiedeman (Sharf, 1992: 304) mengemukakan bahwa keputusan untuk memilih pekerjaan, jabatan atau karir tertentu merupakan suatu rentetan akibat dari keputusan-keputusan yang dibuat individu pada tahap-tahap kehidupannya di masa lalu.

Pembuatan keputusan menurut David V. Tiedeman dibagi menjadi dua periode, yaitu periode antisipasi (anticipation) dan periode implementasi (implementation). Kedua periode ini merupakan inti dari suatu perkembangan karir. Perkembangan pekerjaan itu diorientasikan dari keputusan mengenai sekolah, kerja dan kehidupannya.

1.       Periode Antisipasi (The Period of Anticipation)
  Tiedeman dan O’Hara (Sharf, 1992: 307) membagi antisipasi dalam membuat
  keputusan karir menjadi empat proses, yaitu eksplorasi, kristalisasi, pemilihan,
  dan klarifikasi. Miller dan Tiedeman (1989) menegaskan bahwa tahapan tersebut
  sebagai panduan (guideline) dalam mengantisipasi suatu keputusan.

a.       Eksplorasi
  Eksplorasi yang dimaksud adalah penjelajahan terhadap kemungkinan alternatif
  keputusan yang akan diambil. Melalui eksplorasi ini, individu mengetahui dengan
  jelas konsekuensi apa yang akan dialami jika mengambil keputusannya tersebut.
b.       Kristalisasi
  Tiedeman dan O’Hara (Sharf, 1992: 308) berasumsi bahwa kristalisasi merupakan
  sebuah stabilisasi dari representasi berpikir. Pada tahap ini, pemikiran dan perasaan
  mulai terpadu dan teratur. Keyakinan atas pilihan yang akan diambil menguat.
  Definisi tentang alternatif pilihan semakin jelas.
c.       Pemilihan
  Sama halnya dengan perkembangan kristalisasi, proses pemilihan pun terjadi.
  Masalah-masalah individu berorientasi kepada tujuan yang relevan, yaitu individu
  mulai mengorganisir dalam melengkapi dan menyesuaikan terhadap berbagai
  pilihan karir masa depan. Sehingga pada tahap ini individu percaya atas pilihannya.
d.       Klarifikasi
  Ketika seorag induvidu membuat keputusan lalu melakukannya, mungkin dalam
  perjalanannya ada yang lancar mungkin ada yang mempertanyakan kembali karena
  kebingungan. Pada saat individu mengalami kebingungan, seharusnya individu
  tersebut melakukan eksplorasi kembali, kristalisasi, lalu melakukan pemilihan
  alternatif kembali dan seterusnya.

2.       Periode Implementasi dan Penyesuaian (The Period of Implementation and Adjustment).
  Periode implementasi dan penyesuaian ini oleh David V. Tiedeman (Sharf, 1992: 310)
  digolongkan menjadi tiga tahap, yaitu: tahap induksi (induction),
  tahap transisi (transitition), dan tahap mempertahankan (maintenance).

a.       Tahap Induksi
  Tahap ini terjadi atau dimulai dari pengalaman dan kesimpulan yang diteliti.
  Individu mengorganisir karir dari tujuan individu ke dalam interaksi yang
  berhubungan dengan masyarakat (misalnya melanjutkan sekolah atau pekerjaan).
  Selama tahap ini, individu mengutamakan hal-hal yang berkaitan dengan tujuan
  yang telah dicapainya. Akhirnya pada tahap ini tujuan dan sejumlah alternatif
  menjadi suatu bagian. Dalam arti lain, tujuan   individu dan dunia kerja
  berasimilasi dengan posisinya sebagai salah satu aspek yang memungkinkan
  mendorongnya untuk berhasil.

b.      Tahap Transisi
  Dalam tahap ini, orientasi yang diutamakan adalah disesuaikan kepada penetapan
  tujuan karir yang diambilnya. Walaupun telah diperoleh kepercayaan bahwa
  seseorang akan berhasil terhadap pembuatan keputusan karirnya, akan tetapi
  seorang individu masih mengalami tahap transisi berbagai keputusan yang
  telah diambilnya, yaitu adanya berbagai kemungkinan bahwa individu
  akan menyimpang arah.

c.       Tahap Mempertahankan
  Pada tahap mempertahankan, individu memelihara kaputusan karir yang
  telah diambilnya. Prospek terhadap segala usahanya telah menuju kepada status
  di masa mendatang dan seterusnya akan berkembang menjadi pembinaan karir.

Daftar Pustaka 
Manrihu, Muhammad Thayeb. (1992). Pengantar Bimbingan dan Konseling Karir. Jakarta: Bumi Aksara.
Sharf, Richard S. (1992). Applying Career Development Theory to Counseling. California: Brooks/ Cole Publishing Company.
Sukardi, Dewa Ketut. (1987). Bimbingan Karir di Sekolah-sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Winkel, W.S & Sri Hastuti. (2005). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.
http://dachulovers.blogspot.com

Senin, 06 April 2015

Psikologi Industri

Psikologi industri adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di tempat kerja. Ilmu ini berfokus pada pengambilan keputusan kelompok, semangat kerja karyawan, motivasi kerja, produktivitas, stres kerja, seleksi pegawai, strategi pemasaran, rancangan alat kerja, dan berbagai masalah lainnya. Psikolog industri meneliti dan mengidentifikasi bagaimana perilaku dan sikap dapat diimprovisasi melalui praktik penggajian, program pelatihan, dan sistem umpan balik. Perkembangan psikologi industri di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan psikologi di negara-negara barat terutama Amerika Serikat.

Pada dasarnya, psikologi mempelajari perilaku karyawan dalam lingkungan kerja. Walaupun psikologi industri tidak dimulai sampai tahun 1920-an, disiplin telah berkembang pesat dan merevolusi tempat kerja dalam abad terakhir. Karena tempat kerja adalah suatu sistem sosial, penerapan cabang ilmu psikolog ini berguna dalam memahami kompleksitasnya.
Selama bertahun-tahun, psikolog telah mempelajari bagaimana manusia makhluk telah berinteraksi dengan lingkungan mereka dan satu sama lain, tetapi psikologi indusri mulai mengevaluasi interaksi antar perorangan dan pekerjaan mereka. Psikologi Industri dapat digunakan untuk meningkatkan kepuasan kerja serta produktivitas perusahaan dan menjadi penting bagi keberhasilan suatu organisasi.

Psikologi Industri
 mengacu pada proses perilaku pada suatu organisasi, misalnya ketika mengevaluasi hubungan seseorang dengan pekerjaan mereka. Mereka menganalisis cara seseorang bekerja, keterampilan mereka, tugas, kewajiban, dan umum kepuasan dengan pekerjaan mereka sehari-hari.
Informasi ini sangat membantu untuk sumber daya manusia departemen dan pengawas perusahaan yang harus membuat program pelatihan, dan manfaat sistem umpan balik, dan membuat keputusan perekrutan serta terlibat dalam praktek-praktek perekrutan. Sebagian besar perusahaan menggunakan psikolog industri untuk melatih staf mereka sendiri sehingga organisasi dapat berjalan lancar dan pada kapasitas puncak.

Aspek-Aspek Psikologi Industri
Salah satu aspek yang paling menarik dari psikologi industri adalah bagaimana perilaku karyawan mempengaruhi individu lain pada pekerjaan dan organisasi secara umum. Psikologi Industri dapat digunakan untuk mengurangi perilaku kontraproduktif, meningkatkan efektivitas tim, dan meningkatkan semangat. Hal ini juga penting dalam resolusi konflik . Banyak orang menemukan beban ketidakpuasan kerja mereka berakar dalam hubungan mereka dengan manajer dan rekan. Untungnya, psikologi industri menyediakan solusi untuk ini.

Walaupun  psikologi industrimerupakan campuran dari antropologi , konseling, sosiologi dan manajemen industri, ada komponen utama yang digunakan dalam jenis psikologi. Beberapa komponen utama termasuk evaluasi kepribadian karyawan, persepsi, serta sisi biologis dari perilaku mereka. Dengan mendokumentasikan titik-titik kunci, psikolog industri memiliki kemampuan untuk membantu organisasi meningkatkan fungsi mereka dan mendirikan sebuah sistem yang mendorong pertumbuhan bagi perusahaan dan karyawan.


Untuk dapat mempelajari psikologi industri, pertama kita harus mempelajari sejarah dan perkembangan industri baik lokal maupun dunia. Kemudian 5 hal yang paling sering dibahas dalam psikologi industri yaitu kelompok atau organisasi, karyawan, motivasi, produktivitas, dan stres kerja. Lalu ilmu pemasaran atau marketing(terutama tentang perilaku pasar) dan terakhir adalah ilmu-ilmu lain yang terkait dengan psikologi industri dimana setiap ilmu yang terkait bersifat spesifik bergantung pada jenis industrinya. Berikut ini penjelasan detailnya :

1. Sejarah Industri Dunia.
2. Karyawan dan Produktivitas
3. Definisi Motivasi
4. Sterss

Sejarah Industri Dunia

Pada awalnya, industri hanya terdiri dari industri kecil dan menengah. pengerjaaanya juga banyak menggunakan tenaga manusia (buruh), jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekarang. Kalaupun menggunakan mesin, mesin tersebut digerakkan oleh manusia atau hewan. Namun, semenjak revolusi industri, semuanya menjadi berubah drastis. Perubahan yang drastis ini telah banyak menimbulkan masalah, kemudian memunculkan suatu disiplin ilmu yang disebut Teknik Industri yang kemudian melahirkan psikologi industri dan psikologi industri ini menjadi bagian dari Teknik Industri. Dengan membaca sejarah Revolusi Industri ini, maka anda dapat mempelajari beberapa hal yang terkait dengan psikologi industri seperti masalah ketenagakerjaan dan memprediksi masa depan industri.


REVOLUSI INDUSTRI

Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.
Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat. Seperti yang dinyatakan oleh pemenang Hadiah Nobel, Robert Emerson Lucas, bahwa: "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya".
Inggris memberikan landasan hukum dan budaya yang memungkinkan para pengusaha untuk merintis terjadinya Revolusi Industri. Faktor kunci yang turut mendukung terjadinya Revolusi Industri antara lain: 
(1) Masa perdamaian dan stabilitas yang diikuti dengan penyatuan Inggris dan Skotlandia,
(2) tidak ada hambatan dalam perdagangan antara Inggris dan Skotlandia,
(3) aturan hukum (menghormati kesucian kontrak),
(4) sistem hukum yang sederhana yang memungkinkan pembentukan saham gabungan
    perusahaan (korporasi), dan
(5) adanya pasar bebas (kapitalisme).

Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, dimana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis menufaktur. Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dibangunnya terusan, perbaikan jalan raya dan rel kereta api. Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya menyebabkan membengkaknya populasi di kota-kota besar di Inggris.
Awal mula Revolusi Industri tidak jelas tetapi T.S. Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830. Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapa tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin pembakaran dalam dan perkembangan pembangkit tenaga listrik.

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, RenĂ© Descartes, Galileo Galilei serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science. Adapula faktor dari dalam seperti ketahanan politik dalam negeri, perkembangan kegiatan wiraswasta, jajahan Inggris yang luas dan kaya akan sumber daya alam.

Istilah "Revolusi Industri" sendiri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Beberapa sejarawan abad ke-20 seperti John Clapham dan Nicholas Crafts berpendapat bahwa proses perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi secara bertahap dan revolusi jangka panjang adalah sebuah ironi. Produk domestik bruto (PDB) per kapita negara-negara di dunia meningkat setelah Revolusi Industri dan memunculkan sistem ekonomi kapitalis modern. Revolusi Industri menandai dimulainya era pertumbuhan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi kapitalis.

Awal mula penggunaan istilah "Revolusi Industri" ditemukan dalam surat oleh seorang utusan Perancis bernama Louis-Guillaume Otto pada tanggal 6 Juli 1799, dimana dia menuliskan bahwa Perancis telah memasuki era industrialise.. Dalam buku terbitan tahun 1976 yang berjudul : Keywords: A Vocabulary of Culture and Society, Raymond Williamsmenyatakan bahwa kata itu sebagai sebutan untuk istilah "industri".

Revolusi Industri adalah perubahan besar, secara cepat, dan radikal yang mempengaruhi kehidupan corak manusia sering disebut revolusi. Istilah revolusi biasanya digunakan dalam melihat perubahan politik atau sistem pemerintahan. Namun, Revolusi Industri di Inggris pada hakikatnya adalah perubahan dalam cara pembuatan barang-barang yang semula dikerjakan dengan tangan (tenaga manusia) kemudian digantikan dengan tenaga mesin. Dengan demikian, barang-barang dapat dihasilkan dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat.


Sebab-sebab timbulnya Revolusi Industri
Revolusi Industri untuk kali pertamanya muncul di Inggris. Adapun faktor-faktornya yang menyebabkannya adalah sebagai berikut:
  • Situasi politik yang stabil. Adanya Revolusi Agung tahun 1688 yang mengharuskan raja bersumpah setia kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan hanya menarik pajak berdasarkan atas persejutuan parlemen.
  • Inggris kaya bahan tambang, seperti batu bara, biji besi, timah, dan kaolin. Di samping itu, wol juga yang sangat menunjang industri tekstil.
  • Adanya penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan meningkatkan hasil produksi, misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun, mesin uap, dan sebagainya.
  • Kemakmuran Inggris akibat majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat menyediakan modal yang besar untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga tersedia bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan yang menghasilkan bahan mentah tersebut.
  • Pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga mendorong kegiatan penelitian ilmiah. Lebih-lebih setelah dibentuknya lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge maka perkembangan teknologi dan industri bertambah maju.
Arus urbanisasi yang besar akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong pemerintah Inggris untuk membuka industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka.



Akibat Revolusi Industri
Revolusi Industri mengubah Inggris menjadi negara industri yang maju dan modern. Di Inggris muncul pusat-pusat industri, seperti Revolusi, Manchester, Liverpool, dan Birmingham. Seperti halnya revolusi yang lain, Revolusi Industri juga membawa akibat yang lebih luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, baik di negeri Inggris sendiri maupun di negara-negara lain.


Akibat di bidang ekonomi

Barang melimpah dan harga murah
Revolusi Industri telah menimbulkan peningkatan usaha industri dan pabrik secara besar-besaran melalui proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu singkat dapat menghasilkan barang-barang yang melimpah. Produksi barang menjadi berlipat ganda sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Akibat pembuatan barang menjadi cepat, mudah, serta dalam jumlah yang banyak sehingga harga menjadi lebih murah.

Perusahaan kecil gulung tikar
Dengan penggunaan mesin-mesin maka biaya produksi menjadi relatif kecil sehingga harga barang-barang pun relatif lebih murah. Hal ini membawa akibat perusahaan tradisional terancam dan gulung tikar karena tidak mampu bersaing.

Perdagangan makin berkembang
Berkat peralatan komunikasi yang modern, cepat dan murah, produksi lokal berubah menjadi produksi internasional. Pelayaran dan perdagangan internasional makin berkembang pesat.

Transportasi semakin lancar
Adanya penemuan di berbagai sarana dan prasarana transportasi yang makin sempurna dan lancar. Dengan demikian, dinamika kehidupan masyarakat makin meningkat.


Akibat di bidang sosial

Berkembangnya urbanisasi
Berkembangnya industrialisasi telah memunculkan kota-kota dan pusat-pusat keramaian yang baru. Karena kota dengan kegiatan industrinya menjanjikan kehidupan yang lebih layak maka banyak petani desa pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini mengakibatkan terabaikannya usaha kegiatan pertanian.

Upah buruh rendah
Akibat makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga kerja makin melimpah. Sementara itu, pabrik-pabrik banyak yang menggunakan tenaga mesin. Dengan demikian, upah tenaga kerja menjadi murah. Selain itu, jaminan sosial pun berkurang sehingga kehidupan mereka menjadi susah. Bahkan para pengusaha banyak memilih tenaga buruh wanita dan anak-anak yang upahnya lebih murah.

Munculnya golongan pengusaha dan golongan buruh
Di dalam kegiatan industrialisasi dikenal adanya kelompok pekerja (buruh) dan kelompok pengusaha (majikan) yang memiliki industri atau pabrik. Dengan demikian, dalam masyarakat timbul golongan baru, yakni golongan pengusaha (kaum kapitalis) yang hidup penuh kemewahan dan golongan buruh yang hidup dalam kemiskinan.

Adanya kesenjangan antara majikan dan buruh
Dengan munculnya golongan pengusaha yang hidup mewah di satu pihak, sementara terdapat golongan buruh yang hidup menderita di pihak lain, maka hal itu menimbulkan kesenjangan antara pengusaha dan buruh. Kondisi seperti itu sering menimbulkan ketegangan-ketegangan yang diikuti dengan pemogokan kerja untuk menuntut perbaikan nasib. Hal ini menimbulkan kebencian terhadap sistem ekonomi kapitalis, sehingga kaum buruh condong kepada paham sosialis.

Munculnya revolusi sosial
Pada tahun 1820-an terjadi huru hara yang ditimbulkan oleh penduduk kota yang miskin dengan didukung oleh kaum buruh. Gerakan sosial ini menuntut adanya perbaikan nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin. Undang-undang tersebut, antara lain sebagai berikut:
  1. Tahun 1832 dikeluarkan Reform Bill atau Undang-Undang Pembaharuan Pemilihan. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan hak-hak perwakilan di dalam parlemen.
  2. Tahun 1833 dikeluarkan Factory Act atau Undang-Undang Pabrik. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan jaminan sosial. Di samping itu, undang-undang juga berisi larangan pengunaan tenaga kerja anak-anak dan wanita di daerah tambang di bawah tanah.
  3. Tahun 1834 dikeluarkan Poor Law Act atau Undang-Undang Fakir Miskin. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat penampungan dan perawatan para fakir miskin sehingga tidak berkeliaran.
  4. Makin kuatnya sifat individualisme dan menipisnya rasa solidaritas. Dengan adanya Revolusi Industri sifat individualitas makin kuat karena terpengaruh oleh sistem ekonomi industri yang serba uang. Sebaliknya, makin menipisnya rasa solidaritas dan kekeluargaan.

Akibat di bidang politik

Munculnya gerakan sosialis
Kaum buruh yang diperlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha mulai bergerak menyusun kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka kemudian membentuk organisasi yang lazim disebut gerakan sosialis. Gerakan sosialis dimotivasi oleh pemikiran Thomas Marus yang menulis buku Otopia. Tokoh yang paling populer di dalam pemikiran dan penggerak paham sosialis adalah Karl Marx dengan bukunya Das Kapital.

Munculnya partai politik
Dalam upaya memperjuangkan nasibnya maka kaum buruh terus menggalang persatuan. Apalagi dengan makin kuatnya kedudukan kaum buruh di parlemen mendorong dibentuknya suatu wadah perjuangan politik, yakni Partai Buruh. Partai ini berhaluan sosialis. Di pihak pengusaha mengabungkan diri ke dalam Partai Liberal.

Munculnya imperialisme modern
Kaum pengusaha/kapitalis umumnya mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemerintahan untuk melakukan imperialisme demi kelangsungan industrialisasinya. Dengan demikian, lahirlah imperialisme modern, yaitu perluasan daerah-daerah sebagai tempat pemasaran hasil industri, mencari bahan mentah, penanaman modal yang surplus, dan tempat mendapatkan tenaga buruh yang murah. Dalam hal ini, Inggris yang menjadi pelopornya.

*Back to : psikologi-industri